Rabu, 11 Januari 2012

mu'allaf YUSUF DARBESYE

Mualaf Yusuf Derbeshyre: Biografi
Nabi Muhammad Membuatku
Memilih Islam (1) REPUBLIKA.CO.ID, Saya
bernama, Yusuf Derbeshyre.
Sebelum menjadi Muslim, saya
adalah apa yang Anda bisa
mengklasifikasikan sebagai "tipe
pemuda Inggris pada umumnya".Saya biasa pergi
minum-minum pada malam Sabtu,
dan semua hal semacam
itu. Namun, semuanya berubah
sekitar lima tahun yang lalu, ketika
saya pergi berlibur ke Yunani. Biasanya, jika kita ingin berlibur,
kita akan punya banyak buku
dikemas dalam ransel untuk
dibaca. Maka, saya pun pergi ke
sebuah toko buku dan mencari
sebuah buku yang bagus. Ternyata, setelah melihat-
lihat di toko buku tersebut, dan
saya tidak bisa menemukan apa-
apa yang saya anggap menarik.
Saya masih memakai ransel di
punggung saya, dan ketika saya berbalik untuk pergi, saya
mengetuk rak buku dan semua
buku jatuh. Karena malu, saya mengambil
semua buku, termasuk sebuah
buku yang ditulis Barnaby
Rogerson yang menuliskan
tentang biografi Nabi Muhammad. Saya membaca halaman pertama
dan isinya menarik. Saya
membaca halaman kedua.
Membawanya ke meja kasir,
membelinya dan membawanya
berlibur dengan saya. Setelah membaca buku itu, saya
pikir "Ya saya ingin belajar lebih
banyak." Ketika saya kembali dari liburan,
saya mulai pergi ke masjid dekat
rumah. Di sana, saya mengungkap
niat untuk belajar lebih banyak
tentang Islam. Dan Imam, yang
membantu saya membaca syahadat, mengatakan "Nah,
sejujurnya, cara terbaik untuk
memahami Islam adalah menjadi
seorang Muslim." Saya tidak berpikir dua kali tentang
hal itu. Saya langsung bersaksi
mengucap syahadat di sana dan
saat itu juga. Sebagai
seseorang yang baru menjadi
Muslim, Anda menemukan bahwa
Anda semacam memiliki
kesamaan dari para sahabat Nabi.
Ini karena mereka semua juga seorang mualaf. Dan, saya
merasakan adanya kesamaan
dengan Hamzah, seorang tentara
Muslim. Sebelum menjadi Muslim, ia sering
minum minuman keras dan hidup
yang keras, serta ia sangat
menikmati hidupnya. Ternyata, dia
lebih menikmati hidupnya dengan
penuh setelah ia menjadi seorang Muslim. Saya sangat memiliki
kesamaan dengannya, dan
merasa ada hubungan di antara
kita. Kebersamaan kami terus berlanjut
hingga saya memutuskan untuk
berhaji. Ketika itu saya sempat
mendatangi tempat terjadinya
Perang Uhud. Ketika itulah saya
merasakan dorongan emosional yang kuat. Ketika turun dari bus dan berjalan,
rasanya saya seperti sedang
berjalan melalui ketenangan. Saya
merasa sangat emosional, dan air
mata hanya mengalir di wajah
saya, dan saya tidak bisa menghentikan mereka, tidak tahu
mengapa. Jadi saya terus berjalan, dan ketika
saya turun di jalanan berpasir, saya
merasakan kesedihan saya sirna.
Aneh, pikir saya. Tapi, saya terus
berjalan menuju pemakaman. Aku
berdoa untuk para tentara saat Perang Uhud, termasuk untuk
Hamzah. Ketika waktu pergi tiba dan
sedang berjalan melintasi jalanan
berpasir, perasaan itu muncul
lagi. Saya hanya bisa menangis.
Seseorang bertanya kepada saya
"Ada apa?" Dan saya mengatakan semuanya kepada dia, petugas
penerjemah rombongan kami. Dia mengatakan, "Ketika Nabi
kami tahu apa yang terjadi kepada
pamannya ia menangis, dan
hanya menangis dan menangis." Saya berkata "Saya merasa di sini,
di dada saya, untuk Hamzah dan
saya merasa terpukul dan terharu
sepenuhnya.'' Ketika saya pulang, saya berkata
pada istri saya, yang sedang hamil
saat itu."Jika kita memiliki seorang
putra, saya ingin memanggilnya
Hamzah.'' Rupanya, kami mendapatkan
seorang gadis kecil. Jadi sebelum
saya pergi menemui ibuku, saya
melihat di internet untuk melihat
apakah ada perempuan yang
memiliki hubungan dengan Hamzah, agar dapat memberinya
nama perempuan tersebut. Sayang, saya tidak bisa
menemukan sesuatu. Istri saya
mengatakan "Tanyakan ibumu".
Jadi saya bertanya pada ibuku dan
ibuku mulai mencari. Beberapa
hari kemudian, dia bilang dia mencari melalui internet dan
menemukan tiga nama untuk kita.
Yang paling kami suka adalah
Safiyya. Jadi kami berpikir
"Baiklah, kita akan memberinya
nama Safiyya". Beberapa bulan setelah kami
melakukan itu, saya merasa
sangat tertekan dan frustrasi. Saya
punya buku dan membaca
tentang kisah setelah Uhud. Di
lembar awal, buku itu hanya menceritakan tentang proses
kematian dan penguburan para
tentara Muslim dan Hamzah
sendiri. Kemudian buku itu mulai
berbicara tentang adik Hamzah
yang datang dengan dua potong kain. Dan, nama adik Hamzah
adalah Safiyya! Red: Endah Hapsari
Rep: aghia khumaesi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

jangan kirim spam/virus yaa.siip deh